4 Tahap Mendidik Anak Sesuai Dengan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

0
32

Dalam mendidik anak, para orangtua membutuhkan pengetahuan yang cukup untuk diteladani. Dan bagi umat Islam, contoh teladan yang terbaik adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau doa anak yang shalih.” (HR. Muslim no. 1631).

Berarti keturunan atau anak yang shalih adalah harapan bagi setiap orang tua. Terutama ketika orang tua telah tiada, ia akan terus mendapatkan manfaat dari anaknya. Manfaatnya bukan hanya dari doa seperti tertera dalam hadits di atas. Manfaat yang orangtua peroleh bisa pula dari amalan anak dan itulah pentingnya mendidik anak dengan baik.

Semua anak yang dilahirkan merupakan pembawa rahmat dan rezeki untuk semua keluarga. Mereka dilahirkan penuh dengan kelebihan dan keistimewaan. Tidak ada istilah mereka dilahirkan sebagai pembawa sial.

Banyak hal yang membuat bimbang para orangtua kini, mendidik anak adalah perkara sulit dan kadang menjadi suatu hal yang percuma ketika si anak tumbuh menjadi orang yang seperti tidak pernah mendapat didikan orangtua. Kebanyakan dari orangtua hanya mengandalkan pendidikan formal di sekolah, tapi bagaimana bisa tanggung jawab pendidikan hanya diserahkan pada guru di sekolah? Tentunya hal itu tidak akan efisien karena guru di sekolah tidak secara khusus mendidik anak Anda. Ada ratusan murid di sekolah yang harus mereka didik, dan para guru hanya berfokus pada pendidikan akademis saja.

4 Tahapan bagaimana cara mendidik anak sesuai sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

1. Umur 0-6 tahun

© freepik.com

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh para orangtua untuk memanjakan, menyayangi dan mengasihi anak-anak di usia ini tanpa batas. Berikan mereka kasih sayang dengan adil tanpa ada rasa pilih kasih. Jangan sampai memukul atau melukai anak ketika mereka melakukan kesalahan. Didiklah mereka dengan baik di masa kecil dan jadilah orangtua yang dapat menjadi panutan bagi mereka kelak.

2. Umur 7-14 tahun

© freepik.com

Pada tahap ini kita sebagai orangtua perlu mulai menerapkan disiplin dan tanggung jawab kepada anak-anak.

Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud no. 495. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Pukul yang dimaksud di sini bukanlah pukulan yang menyiksa, tidak membuat tulang patah atau mereka sampai terluka. Pukul di sini adalah memukul dengan memperhatikan mereka, agar mereka tahu akan kewajiban dan tanggung jawab mereka. Kemudian ketika mereka tidur, mulai pisahkanlah antara saudara laki-laki dan perempuan. Inilah masa terbaik bagi kita dalam mendidik anak untuk menjadikan mereka orang yang punya dasar agama yang kuat, bangun akhlak mereka agar menjadi muslim sejati.

3. Umur 15- 21 tahun

© freepik.com

Di masa inilah yang berat, masa remaja adalah masa di mana anak-anak suka memberontak pada orangtua. Jadilah sahabat bagi anak agar mereka tetap terjaga. Jangan terlalu mengekang tanpa mau mengerti mereka. Misalnya saja anak perempuan, ketika mereka mulai mendapat haid dan beranjak baligh, sebagai orangtua terutama ibu dituntut untuk lebih aktif memberikan mereka pendidikan mengenai proses pubertasnya. Didik mereka dan tanamkan pada mereka untuk tidak sembarangan dalam pergaulan. Selain itu anak lelaki juga butuh dampingan orangtua untuk menghadapi masa pubertasnya agar tidak keluar batas dalam pergaulannya dan lebih memilih mencari kesenangan di luar lingkungan keluarganya.

4. Umur 21 tahun ke atas

© freepik.com

Pada masa ini orangtua harus memberikan kepercayaan penuh pada anak-anak dengan memberikan kebebasan dalam membuat keputusan mereka sendiri. Orangtua hanya perlu memantau dan menasihati dengan iringan doa atas keputusan apa yang anak-anak ambil. Insyaa Allah dengan segala sikap disiplin yang sudah orangtua ajarkan akan menjadi benteng bagi mereka. Jangan pernah bosan untuk memberikan anak-anak nasihat, karena sebanyak 200 kali nasihat terhadap anak-anak mampu membentuk perilau baik anak seperti yang orangtua inginkan.

Curahkan kasih sayang dengan bermain bersama mereka

Sebenarnya hal penting yang dapat menjadi kunci keberhasilan orangtua dalam mendidik anak adalah apabila para orangtua mengikuti apa yag diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang sudah dibahas di atas. Orangtua yang memberikan kasih sayang dan menanamkan akhlak mulia kepada anak cenderung memilii anak yang mudah mendengarkan orangtua dan tidak suka membantah.

Masa kecil anak tidak akan terulang untuk kedua kalinya

Jangan pernah menganggap remeh dalam hal pendidikan anak jika tak ingin anak Anda tumbuh menjadi generasi yang suka membantah. Didiklah Anak dengan baik agar mereka menjadi generasi muslim yang taat pada Allah Ta’ala dan rasulnya, berbakti pada orangtua serta bermanfaat bagi sesamanya. Masa kecil mereka tidak akan terulang untuk kedua kalinya, jangan sampai Anda menyesal di kemudian hari karena tidak berhasil mendidik anak-anak.

Selain itu para orangtua yang menginginkan anak shalih, hendaknya juga harus memperbaiki diri. Bukan hanya berharap anaknya jadi baik. Sedangkan sebagai orangtua sendiri Anda masih terus bermaksiat, masih sulit shalat, masih enggan menutup aurat. Sebagian salaf sampai-sampai terus menambah shalat, cuma ingin agar anaknya menjadi shalih.

Sa’id bin Al-Musayyib pernah berkata pada anaknya,

لَأَزِيْدَنَّ فِي صَلاَتِي مِنْ أَجْلِكَ

“Wahai anakku, sungguh aku terus menambah shalatku ini karenamu (agar kamu menjadi shalih, pen.).” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 467)

Bukti lain pula bahwa keshalihan orang tua berpengaruh pada anak, di antaranya kita dapat melihat pada kisah dua anak yatim yang mendapat penjagaan Allah karena ayahnya adalah orang yang shalih. Silakan lihat dalam surat Al-Kahfi,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih.” (QS. Al-Kahfi: 82).

Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan,

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوْتُ إِلاَّ حَفِظَهُ اللهُ فِي عَقِبِهِ وَعَقِبِ عَقِبِهِ

“Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah, pen.), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 467)

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar di sini
Tulis nama di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.