Dampak Perceraian Orangtua Terhadap Anak

0
5

Tak ada yang mengharapkan perceraian terjadi dalam hubungan rumah tangga. Namun, jika memang perceraikan jadi jalan satu-satunya bagi pasangan, sulit untuk pihak lain melarang. Walau demikian, pastinya perceraian ini memiliki dampak bagi keluarga, terutama anak. 

Penelitian menunjukkan perceraian memberikan dampak buruk berupa gangguan perilaku dan emosional yang tampak pada semua kelompok usia. Pengaruh reaksi anak terhadap perceraian sangat tergantung pada usia anak, biasanya anak pada usia 3 sampai 6 tahun tidak begitu berpengaruh ketika orangtua bercerai, hal ini disebabkan karena anak belum begitu mengerti sepenuhnya arti perceraian itu sendiri. Anak seumur itu beranggapan bahwa faktor perceraian orangtua mereka disebabkan oleh dirinya.

Anak-anak pada usia tersebut beranggapan bahwa pertengkaran-pertengkaran orangtua mereka yang terjadi dan disaksikan oleh si anak merupakan sebab yang berasal dari dirinya. Oleh karenanya anak seusia tersebut berasumsi bertanggungjawab terhadap perceraian yang terjadi pada orangtuanya.

Perceraian merusak tumbuh kembang anak

© pixabay.com

Menurut American Psychological Association, anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan pernikahan yang bahagia, dapat melindungi anak-anak dari masalah mental, fisik, pendidikan, dan sosial. Walau demikian, bukan berarti anak dari orang tua bercerai akan tumbuh ke arah negatif.

Perceraian bisa menyebabkan anak-anak mengalami kemunduran dalam kemampuan belajar dan merasa tidak akrab dengan orang tua ketika sudah dewasa. Sebagian anak yang orang tuanya bercerai saat mereka berusia 5 tahun atau lebih kecil, tidak merasa memiliki ikatan khusus dengan orang tuanya, atau memiliki perasaan tidak nyaman saat bersama mereka.

Bukan hanya itu, anak-anak yang orang tuanya bercerai umumnya akan merasakan emosi yang campur aduk, antara kaget, sedih, cemas, marah atau bingung. Sebagian anak juga lebih berisiko mengalami masalah dalam bersosialisasi. Tak jarang anak akan merasa rendah diri dan iri pada anak lain yang memiliki keluarga yang utuh.

Para ahli juga menuturkan bahwa tingkat depresi setiap anak berbeda-beda. Gender pun agaknya mempunyai peran pada respon anak menghadapi perceraian. Selain itu, efek perceraian pada remaja perempuan cenderung akan membuat mereka lebih tertekan dan terisolasi. Mereka akan menutup diri. Sedangkan anak laki-laki cenderung meluapkannya. Mereka akan mengeskpresikan kemarahan mereka dengan cara yang berbeda.

Beberapa dampak perceraian terhadap perilaku dan emosi pada anak :

© pixabay.com

1. Penurunan prestasi pada anak. Dampak ini sangat terlihat pada perceraian orangtuanya pada saat usia anak berada pada 7-12 tahun, baik disadari atau tidak, anak mulai mengalami stresyang mempengaruhi performance di sekolah. Anak sulit berkonsentrasi dan sering termenung di kelas.

2. Beberapa anak remaja akan bersikap sebagai ‘terapis’ untuk berusaha agar perceraian orangtua tidak terjadi, mereka berusaha dalam keadaan tegar dan berpura-pura dirinya dalam keadaan baik-baik saja, padahal mereka sebenarnya dalam keadaan terluka dan marah terhadap perilaku dan keputusan orangtuanya bercerai. Remaja lainnya juga mengembangkan fantasi mereka bahwa orangtuanya suatu saat akan bersatu kembali, harapan-harapan tersebut selalu ditumbuhkan sehingga anak akan merasa dendam kepada orangtuanya ketika ada “orang baru” muncul dalam keluarganya sebagai pengganti salah satu orangtuanya kelak. Hal inilah yang memunculkan agitasi anak karena harapan dari fantasinya tidak menjadi kenyataan.

3. Trauma psikologis berkepanjangan biasanya terjadi pada kasus perceraian yang terjadi dengan tidak baik-baik. Pertengkaran dan tindakan kekerasan fisik yang terjadi pada rumahtangga kerap menjadi tontonan anak. Tingkat trauma akan berpengaruh kepada anak dikemudian hari, berlbagai penyimpangan perilaku bahkan gangguan kepribadian dapat mulai terbentuk dari awal pertengkaran.

4. Peningkatan perilaku agresi. Anak menyimpan rasa marah dan dendam terhadap situasi yang dialaminya akan melampiaskan dengan perilaku agresi fisik, mulai pada tindakan-tindakan kekerasan sampai pada tahap upaya bunuh diri. Anak juga akan mencoba melawan terhadap aturan-aturan keluarga yang biasanya berlaku sebelum perceraian terjadi, misalnya anak mulai pulang larut malam, merokok, atau lebih memilih bergabung bersama teman atau kelompoknya dibandingkan menghabiskan waktunya di rumah.

5. Emosi tidak stabil. Anak yang mengalami perceraian akan mengalami banyak ketegangan dalam hidupnya dibandingkan anak normal lainnya. Dalam kesehariannya anak akan mudah merasa cemas dan mudah merasa sedih. Tingkat kecemasan yang tinggi bisa terjadi pada anak dimana orangtua akan melakukan perkawinan dalam waktu dekat. Anak membutuhkan proses adaptasi dengan anggota keluarga yang baru.

Di samping itu ketakutan akan pengalihan kasih sayang juga menjadi ketakutan pada anak, misalnya kelahiran adik tiri akan menimbulkan perasaan terancam akan berkurang perhatian dan kasih sayang terhadap dirinya. Anak akan memunculkan perasaan sedih dan permusuhan terhadap adik tirinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar di sini
Tulis nama di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.