Kenali Berbagai Bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Dampaknya

0
2

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Sebagian masyarakat kita masih memiliki pola pikir dan pemahaman bahwa kasus kekerasan suami terhadap istri masih dipandang sebagai aib bila diketahui dan dibawa ke sektor publik atau diperkarakan secara hukum dan dianggap sebagai kewajaran, yaitu sebagai bentuk pendisiplinan suami terhadap istri. Pembaruan pola pikir dan cara pandang yang berpihak pada kelompok rentan atau tersubordinasi, khususnya perempuan, menjadi sangat diperlukan sehubungan dengan banyaknya kasus kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga. 

Berbagai bentuk kekerasan yang di alami wanita yang mengalami abusive relationship, terus berlanjut padahal sewaktu-waktu kekerasaan ini dapat mengancam keselamatan jiwanya. Sayangnya, berbagai bentuk penganiayaan ini masih sedikit diketahui oleh wanita atau bahkan didiamkan saja dengan alasan tertentu. Anda tidak perlu lagi berpura-pura bahwa perkawinan Anda tidak mempunyai masalah, bila tahap violence telah memasuki dalam kehidupan perkawinan Anda, mungkin Anda akan hanya berharap masalah ini dapat dilalui dengan diam dan akan baik dengan sendirinya. Padahal semuanya adalah harapan semu!

Berikut adalah berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga :

© pixabay.com

1. Penganiayaan secara fisik

Penganiayaan secara fisik (physically aggression) yang mengarah pada tindakan brutal, kontak fisik yang sengaja dilakukan untuk membebankan atau mengakibatkan luka fisik.   Tindakan ini berupa; mendorong, mendesak tubuh Anda, menampar, menendang, mengigit, mencekik, meninju, memukul dengan sesuatu benda, menyerang dengan pisau atau senjata.

2. Penganiayaan secara emosional

Penganiayaan yang dilakukan untuk membuat Anda menderita secara emosional.  Tindakan ini berupa; menakuti-nakuti, meneriaki, ledakan emosi, mempermalukan, mengkritik secara terus menerus, menodong senjata, mengayunkan kepalan tangan dekat wajah, menghancurkan benda milik seseorang di depan Anda, menendang binatang kesayangan milik kesayangan keluarga, menyalahkan seseorang anggota keluarga atas kesulitan keluarga.

3. Penganiayaan secara verbal

Penganiayaan yang dilakukan secara lisan (verbal aggression).  Tindakan ini berupa; memaki, mencerca, menyebut Anda dengan perumpamaan, membentak dengan ledakan emosi, mengancam.

4. Penganiayaan secara seksual

Pemaksaan dalam berhubungan seksual yang tidak nyaman. Hubungan seksual bukanlah bentuk pelayanan istri kepada suaminya tetapi merupakan kesadaran dan keinginan dari keduabelah pihak. Anda dapat menolak hubungan seks bila Anda tidak menginginkannya atau bila hubungan seksual itu tidak memberikan kenyamanan kepada Anda. Tindakan ini berupa; pemaksaan hubungan seks ketika Anda tidak menginginkan atau dalam keadaan lelah, pemaksaan cara dan gaya seksual yang tidak nyaman atau menyakiti, penggunaan alat bantu seksual yang membuat Anda merasa tidak nyaman atau sakit.

5. Penganiayaan secara finansial

Penganiayaan ini berupa penganiayaan yang membuat Anda menderita secara finansial atau Anda tidak mempunyai kontrol terhadap finasial keluarga.  Tindakan ini berupa; Anda tidak pernah tahu kondisi finansial keluarga, Anda tidak mempunyai wewenang untuk belanja keperluan pribadi, Anda tidak pernah mengatur atau kontrol finansial dengan batasan-batasan tidak wajar dari suami.

Kadang-kadang wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangganya akan berpikir ulang untuk bagaimana caranya ia bertahan atau melepas penderitaan di keadaan pernikahan yang begitu sulit. Semua yang dilakukannya haruslah dengan langkah hati-hati karena akan berdampak pada kelangsungan hidup dirinya dan keluarganya di masa depan.

Berikut adalah beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan mereka yang mengalami kekerasan dalam rumah tangganya :

© pixabay.com

1. Mempertahankan keberlangsungan perkawinan. Alasan mempertahankan perkawinan diataranya adalah, ekonomi, anak, dan faktor usia. Kemungkinan resiko dari keputusan ini adalah meningkatnya kekerasan dan mendorong suami melanjutkan kekejamannya.

2. Perceraian. Hal ini bukanlah jalan keluar terbaik dan diharapkan oleh konseli

3. Pengalihan emosional. Hal ini dapat berdampak hilangnya emosi terhadap suami atau berdampak matinya aspek emosional, akibat lainnya adalah menumbuhkan ketidakstabilan emosi dan mudahnya terlibat dalam affair. Kekerasan yang di alami wanita dalam rumah tangga akan terus berlanjut, seperti siklus, akan terus berulang, jalan satu-satunya yang terbaik adalah segera berpisah dan mencari perlindungan.

Bagi wanita pernikahan adalah salah satu cara mencapai hidup yang bahagia, di mana ia dapat menemukan pria yang dapat mengasihi dan menyayanginya dengan segala tindakannya. Tetapi bila semua kekerasan yang ditemukan, tidak ada pilihan lain yang terbaik, tidak perlu menunggu waktu lebih lama lagi, angkat kepala Anda dan segeralah berlalu darinya! Mengapa seorang wanita mau tetap bertahan dalam suatu pernikahan walaupun dianiaya?

Kebanyakan dari mereka yang membiarkan penganiyaan tetap terjadi karena memiliki latar belakang keluarga yang kejam pula. Kekerasan yang di alami dalam keluarganya dahulu membentuk pikiran bawah sadar seakan pemukulan atau penganiayaan seperti itu memang hal biasa terjadi sebagai bentuk komunikasi dalam keluarga, akibatnya kebanyakan wanita mengalami pertumbuhan dengan kepercayaan diri rendah, menyalahkan diri sendiri, lebih mengutamakan kepentingan orang lain dan seakan bertanggung jawab dengan terbentuknya kondisi-kondisi tersebut. Mereka percaya bahwa suaminya dapat berubah suatu saat nantinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar di sini
Tulis nama di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.