Perhatikan Beberapa Hal Berikut ini Agar Tak Menyesal dalam Mendidik Anak

0
10

Setiap orangtua menginginkan anak yang selalu bisa menuruti orangtua. Namun tak jarang banyak orangtua menggunakan cara yang salah untuk membuat anaknya jadi penurut. Kebanyak dari mereka menggunakan ancaman verbal, namun tanpa disadari hal itu justru merusak psikologis mental anak mereka sendiri.

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan agar kita tidak menyesal dalam mendidik anak :

1. Melatih anak untuk patuh memang berat. Seringnya, emosi orang tua malah kelepasan

© pixabay.com

Mengatakan bahwa menahan emosi saat melihat anak tidak patuh aturan memang berat atau bahkan saat melakukan kesalahan. Salah satu akibat dari emosi yang tak tertahan ini adalah mencari jalan pintas biar anak mau kembali on track. Jalan pintas tersebut ya dengan mengatakan kalimat-kalimat bernada menakuti sampai mengancam. Seperti kalau nggak mau nurut akan disuntik dokter atau kalau makan nggak habis ditakuti ayam peliharaan mati.

2. Saat meminta anak untuk menurut dengan ancaman, sebenarnya langsung terjadi sesuatu di otak mereka. Mari kita cari tahu di bawah ini

© pixabay.com

Otak anak terdiri dari dua bagian, upstair brain dan downstair brainDownstair brain atau otak bawah terdiri dari sitem limbik, dan di sana terdapat amigdala yang menangkap facial expressiondan body language. Di sana pula tempat berasalnya reaksi fight or flight. Itu lo semacam situasi yang mengharuskan kita memilih dua pilihan dengan cepat. Saat akan dikejar seekor anjing misalnya. Nah kalau upstair brain atau otak bagian atas terdiri dari prefontal cortex yang berfungsi untuk executive function. Salah satunya adalah untuk regulasi emosi, berpikir dan lain-lain.

Agar lebih mudah mari kita ibaratkan otak sebagai sebuah rumah

Jika diibaratkan sebuah rumah, otak bagian bawah merupakan bagian untuk basic needs saja. Sedangkan otak atas untuk keperluan yang lebih rumit. Nah otak bagian bawah ini sebenarnya bisa berkembang sendiri. Bahkan sejak lahir pun otak bagian bawah sudah bisa berfungsi. Sedangkan otak bagian atas sebaliknya. Perlu berbagai usaha untuk mengembangkan fungsi-fungsinya.

Ketika anak mendapatkan kata-kata bernada ancaman, otak bawahlah yang kena untuk pertama kalinya

Kinerja otak itu berkebalikan. Kalau otak atas aktif, otak bawah istirahat. Begitu sebaliknya. Nah kata-kata bernada ancaman, apalagi disertai dengan tindakan kekerasan (mencubit, memukul dan sebagainya) membuat fungsi primitif otaklah yang mengambil alih. Dalam hal ini otak bawahlah yang berkerja paling aktif.

3. Akibatnya apa? Otak bagian atas akan ter-shut down dan nasihat apa pun yang diberikan akan sulit masuk

© pixabay.com

Jika anak-anak terus diancam biar menuruti aturan orang tua, maka otak bagian bawahlah yang aktif. Otak bagian atas akan otomatis menurun fungsinya bahkan ter-shut down. Pada situasi ini, bagian otak bawah yang lebih aktif adalah amigdalanya. Amigdala yang sering digunakan akan menumpulkan fungsi eksekutifnya. Akibatnya, anak jadi berontak, menangis, bahkan susah diatur karena terjadi ketimpangan kerja otak.

4. Jadi membuat anak agar menurut pada orang tua jelas bukan dengan cara mengancamnya.

© pixabay.com

Sama seperti pepatah banyak jalan menuju Roma, mengancam atau menakut-nakuti anak bukan satu-satunya cara agar mereka bisa menuruti aturan orang tuanya. Kalau pun Anda tetap nekat dengan alasan agar anak lebih disiplin, maka siap-siap saja kalau hal itu tidak akan berhasil pada akhirnya. Yang ada anak malah jadi takut pada orang tuanya sendiri.

5. Jika ingin anak Anda tumbuh jadi anak yang penurut, ada cara lain yang lebih mendidik dan tidak membuat mereka ketakutan.

© pixabay.com

Salah satu cara yang paling sederhana adalah duduk dan bicara baik-baik dengan si anak. Meski anak masih kecil tapi gestur duduk dan merangkul anak akan membuat mereka nyaman dan nggak takut. Menatap mata anak juga memberikan rasa aman pada mereka, sehingga apa yang Anda jelaskan bisa lebih diperhatikan anak. Kalau pun anak malah balik marah, menangis bahkan tantrum, tunggu dulu sampai selesai. Sebab duduk dan bicara saat anak lagi badai emosi juga akan berakhir sia-sia.

Proses mendidik anak memang nano-nano rasanya. Apalagi kalau ini merupakan pengalaman pertama Anda sebagai orang tua. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat saat Anda mendidik buah hati tercinta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar di sini
Tulis nama di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.