Perlukah Guru Memberikan Pekerjaan Rumah untuk Murid?

0
4

Ketika menginjak usia SD, murid akan memilih mengerjakan PR mereka di rumah ataupun di tempat les. Dan ketika mereka telah menginjak SMP dan SMA, PR bukan lagi dikerjakan di rumah, melainkan dikerjakan di sekolah. Hal ini mungkin diakibatkan makin naiknya tingkat kesulitan suatu pelajaran di setiap jenjang sekolah. Anak-anak yang menginjak SMP ataupun SMA merasa terkadang susah mengerjakannya ataupun mereka yang malas dan terkesan cuek dengan PR, sehingga mereka lebih memilih menunggu temannya saja untuk mejawabnya dan kemudian menconteknya.

Zaman kemudian berkembang. Anak-anak sekarang mungkin banyak menghabiskan waktunya di sekolah karena telah diterapkannya full day school. Hal ini berdampak kepada mood anak dan kesegaran fisiknya untuk mengerjakan soal PR yang telah diberikan. Ditambah, banyak anak telah mempunyai gadget. Hal ini akan berdampak pada anak, ketika anak mungkin lebih asik bermain game di gadget mereka. Ada juga anak yang banyak menghabiskan waktunya di rumah hanya untuk bermain itu, sehingga bisa melupakan kewajiban yang telah diberikan oleh gurunya.

Masalah ini sangat berdampak bagi siswa dan orang tuanya. Masih banyak orang tua dan siswa yang mendukung adanya PR untuk anak. Mungkin ada yang berpendapat bahwa kalau anak tidak diberikan PR, anak akan lebih banyak menghabiskan waktunya bermain dengan gadget. Ada juga yang berpendapat bahwa kalau tidak ada PR, anak tidak akan belajar di rumah.

Perlukah PR diubah dengan model baru?

© pixabay.com

PR yang selama ini dihidangkan untuk siswa selalu saja bersifat akademis yang  tidak berbeda sama sekali dengan apa yang saban hari ditemui di dalam kelas. Siswa harus menjumpai teori atau rumus dan soal hampir sepanjang hari. Mungkin saja hanya menyisakan waktu tidur (yang juga sudah terpotong durasinya).

Padahal kita tahu bahwa hidup anak tidak melulu soal sekolah dan segala hal yang menyertainya, termasuk PR. Belajar bukan hanya dengan mengikuti  program pembelajaran sekolah. Ada hal penting lain seperti quality time dengan keluarga, bermain bersama teman sebaya, berekreasi dan lain sebagainya.

Bahkan menurut Etta Kralovec dan John Buell, dalam tulisannya The End of Homework : How Homework Disrupts Families, Overburdens Children, and Limits Learning, menuturkan bahwa pekerjaan rumah merupakan gangguan pada kehidupan keluarga, yang mengeksploitasi waktu anak untuk berkumpul bersama keluarga atau kegiatan sosial. Belum lagi stress berkepanjangan anak yang timbul dari terlalu banyaknya deadline PR yang harus dikerjakan.

Salah kaprah tujuan pemberian PR

© pixabay.com

Guru memberikan pekerjaan rumah dengan tujuan untuk penguatan, pendalaman dan pengayaan apa yang telah dipelajari. Dengan harapan siswa memiliki tingkat penguasaan materi yang tinggi. Dapat disimpulkan bahwa titik tekan disini adalah bagaimana meningkatkan penguasaan siswa terhadap apa yang dipelajari. Jadi logikanya, bukan berarti peningkatan penguasaan, tambahan tugas berupa aktivitas yang sama jiplek dengan aktivitas sekolah.

Menilik realitas dan dampak yang timbul, PR dengan model klasik berupa sebrek soal yang jawabanya ada di buku sudah tidak lagi relevan dan justru menampakkan tercerabutnya PR dari tujuannya, yakni peningkatan penguasaan. Akan lebih tepat jika pekerjaan berupa upaya kontekstual yang searah dengan kebutuhan dan tidak memberatkan (tekanan emosional) bagi siswa.

Haruskah pekerjaan rumah ditiadakan?

© pixabay.com

Boleh jadi akan tepat jika PR ditiadakan, guna memberikan ruang dan kesempatan siswa untuk belajar lewat keseharian dan menikmati hidupnya. Tapi bukan berarti PR dilenyapkan dari semua tingkatan pendidikan. Cukup sekolah dasar saja, pasalnya usia mereka memang diproyeksikan untuk bermain dalam rangka stimulasi pertumbuhan fisik dan kecerdasan. Yang memberdakan dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah dosis dan obyek pembelaharan, tapi paradigmanya tetap sama.

Sedangkan untuk sekolah menengah (pertama dan lanjutan) keberadaan PR adalah mutlak. Namun yang diberikan sebagai pekerjaan rumah bukan lagi soal / tugas dengan mekanisme kerja CTRL+V dari buku paket atau internet, tapi yang dapat melatih mereka untuk berfikir kritis dan solutif. Kiranya di usia remaja, siswa susah cukup mampu melakukan itu.

Konsepnya berbeda dengan Pekerjaan Rumah pada tingkat sekolah dasar. Setelah dijejali berbagai pengetahuan di kelas, kemudian mereka dirumah diberikan tantangan berupa permasalahan yang terkait dengan apa yang telah dipelajari. Dan itupun tidak harus dalam bentuk tertulis dan metode pengerjaannya bisa dengan bertanya kepada orang tua, tetangga atau bahkan melakukan eksperimen sendiri. Jadi mengerjakan PR sembari bersosialisasi.

Soal dalam dalam model PR ini terfokus pada why and how quetsion bukan what, who, where and when quetsion. Dengan begitu siswa akan terarahkan untuk berfikir untuk memecahkannya, untuk itu harus dipastikan guru tidak membuat pertanyaan yang jawabannya mudah ditemukan.

Disadari atau tidak, pendidikan gaya bank yang kita alami hanya menumpuk sampah-sampah pengetahuan. Padahal hidup teramat dinamis dan atas sebab itu pengetahuan lama akan tergantikan pengetahuan baru. Apa  jadinya jika kemampuan berfikir kritis kita lemah?

Namun, sebagus apapun Pekerjaan Rumah diformulasikan, pada akhirnya ia bukanlah penentu dari keberhasilan sebuah pembelajaran. Karena pada dasarnya PR hanya kepanjangtanganan dari pembelajaran didalam kelas itu. Tapi paling tidak PR tidak kemudian malah menjadi momok bagi siswa yang justru menghambat pembelajaran dan menjadi beban yang sarat menimbulkan stres juga menjajah waktu bermain anak. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar di sini
Tulis nama di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.