Tenggelamnya Dunia Literasi Indonesia

0
12

Dunia literasi Indonesia masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Padahal jika hal itu dikembangkan, akan berdampak positif pada perkembangan sumber daya masyarakat. Seperti yang kita tahu, bahwa literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. Tapi bagaimana jika kemampuan tersebut pudar? Mau jadi apa negeri ini?

Sebenarnya pada kasus ini, kita tidak bisa menyalahkan sebagian pihak. Bukan karena mereka tidak mau maju. Namun terkadang mereka yang mempunyai minat dalam bidang literasi tak jarang tidak mendapatkan fasilitas untuk mendukung minatnya. Pemerintah juga kadang masih diam dan tidak terlalu memperhatikan hal tersebut. Namun sekarang beberapa sekolah sudah ada yang menerapkan budaya literasi dengan memasukkan cara-cara pendidikan terbaru demi mendukung kemajuan literasi.

Sama dengan kalangan masyarakat, dikalangan peserta didik pun kadang para guru harus kerja ekstra keras demi menumbuhkan budaya literasi kepada para muridnya. Fasilitas yang memadai kadang tak mampu menghalau rendahnya motivasi para murid untuk belajar literasi. Alhasil, para guru harus lebih memotivasi para muridnya demi kemajuan dunia pendidikan dan demi menghasilkan generasi-generasi bangsa yang aktif dan kreatif.

Membangkitkan minat baca di kalangan peserta didik memang sangat sulit jika tidak ada alur yang jelas, mereka disuruh membaca tapi tidak tahu apa tujuan dan apa yang harus dilakukan setelahnya, alhasil kegiatan membaca peserta didik akan berhenti begitu saja.

Indonesia memiliki minat baca yang rendah

© pixabay.com

Padahal jika kita lihat data-data dari berbagai survey, Indonesia selalu menempati tempat terbawah dalam membaca, kenyataan sehari-hari memang terlihat bahwa peserta didik kita tidak berminat untuk membaca, mereka lebih senang mengobrol dengan teman lainnya sehingga kebiasaan tersebut terbawa saat mengikuti kegiatan belajar, maka jadilah kelas di sekolah kita menjadi kelas yang bising.

Dalam kenderaan umum kita tidak akan menemukan orang-orang membaca buku, paling-paling ada sesekali ditemukan bapak-bapak tua yang membaca koran di atas angkutan umum, tapi tidak ada anak muda yang membaca buku atau koran di atas kenderaan umum untuk mengisi waktu luangnya, dan sekarang mereka telah beralih ke gadget.

Sangat memprihatinkan bukan? Minat baca bangsa saaat ini sangat mengkhawatirkan, padahal dari membaca, kemampuan berbahasa lainnya seperti menulis dan berbicara akan meningkat. Membaca adalah jendela dunia yang membuat manusia dekat dengan karya sastra, buku, karakter bangsa, dan peradaban. 

Berikut ini adalah 7 cara untuk membangun budaya literasi :

© pixabay.com

1. Tumbuhkan kesadaran pentingnya membaca

Kesadaran akan adanya manfaat sangat penting agar anak suka membaca. Tidak hanya menghabiskan waktu, hobi membaca memiliki banyak keuntungan. Dengan membaca, Anda akan memperoleh informasi yang lebih banyak dan menyeluruh. Membaca juga sangat efektif untuk me-recall memori. Beberapa ahli mengatakan, membaca menjauhkan kita dari demensia—kerusakan pada sistem syaraf yang salah satu dampaknya adalah penurunan daya ingat. Menumbuhkan kesadaran membaca dapat dimulai dari keluarga. Misalnya, orang tua menyediakan buku bacaan di rumah. Hal tersebut tentu saja diimbangi dengan kerelaanorang tua menyisihkan uang untuk membeli buku. Di sinilah peran orang tua sangat diperlukan untuk membangun budaya literasi.

2. Budayakan membaca di sekolah

Sekolah merupakan sarana pendidikan formal. Oleh karena itu, sekolah dapat dijadikan tempat untuk membudayakan membaca. Hal tersebut sangat berkaitan dengan peran guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis literasi. Guru menyajikan materi secukupnya, siswa yang mengembangkan. Tugas guru adalah membimbing pekerjaan siswa agar tepat. Belajar Bahasa Indonesia sangat cocok untuk untuk membiasakan literasi karena di dalamnya terdapat kompetensi dasar membaca dan menulis. Meskipun begitu, seluruh mata pelajaran tetap dapat diintegrasikan dengan budaya membaca.

3. Optimalkan peran perpustakaan

Peran perpustakaan juga sangat penting untuk meningkatkan gerakan literasi. Perpustakaan merupakan gudang buku, sedangkan buku adalah sumber bacaan dan tulisan. Hal yang perlu diperbaiki saat ini adalah memaksimalkan peran perpustakaan untuk membangun budaya literasi. Misalnya, menambah koleksi buku, memperbaiki tatanan perpustakaan, atau menambah jam kunjungan. Semua upaya tersebut dilakukan agar perpustakaan menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Perpustakaan yang harus dioptimalkan tidak hanya yang ada di sekolah, tetapi juga daerah.

4. Biasakan hadiah berupa buku

Salah satu hal yang dapat dibiasakan agar tercipta budaya literasi adalah membiasakan memberikan buku sebagai hadiah. Misalnya, saat teman Anda ulang tahun, atau sekadar kado untuk sahabat atau orang tersayang. Dengan begitu, secara tidak langsung Anda sudah mengajak teman untuk membaca.

5. Bentuklah komunitas baca

Komunitas baca merupakan perkumpulan orang-orang yang gemar membaca. Apakah Anda memilikinya? Atau mungkin Anda memiliki teman-teman yang sama-sama suka membaca. Anda dapat membentuk suatu komunitas untuk membahas buku yang baru saja dibaca. Komunitas tersebut juga bermanfaat agar Anda memiliki referensi-referensi terbaru seputar buku-buku yang Anda suka.

6. Biasakan menulis buku harian

Literasi itu tidak hanya membaca, tetapi dilanjutkan dengan menulis. Pembiasan menulis dapat dimulai dengan buku harian. Pada era sekarang ini, dapat dimulai dengan menulis blog. Menulis didahului oleh kegiatan membaca karena keduanya merupakan keterampilan berbahasa yang berkesinambungan. Oleh karena itu, orang yang terampil menulis biasanya juga pembaca yang baik.

7. Hargai karya tulis

Langkah berikutnya untuk membangun budaya literasi adalah menghargai karya tulis. Dengan menghargainya, berarti Anda mendukung budaya menulis akademik tumbuh dengan baik di negara kita. Lahirnya ide-ide yang cemerlang untuk mengatasi persoalan bangsa lahir dari suatu tulisan ilmiah. Tulisan tersebut didapatkan melalui riset sehingga relevan diterapkan untuk mengatasi persoalan. Menghargai karya tulis merupakan salah satu langkah untuk memajukan budaya literasi di Indonesia.

Di masa sekarang, anak-anak lebih akrab dengan gadget daripada buku. Berbagai permainan dan media sosial yang ditawarkan memang sangat menarik. Akan tetapi, membaca dan menulis juga tak kalah menarik jika dibiasakan sejak dini. Kalau bukan kita yang memulai, bagaimana nasib negeri ini?

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar di sini
Tulis nama di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.